Senin, 07 September 2009

Disappoint....

Tak satupun hati yang pernah dengan lembut menggoyahkan jiwanya yang yang bebal atas derita. Hanya sebatas rasa yang berdiam sementara, dan setelah jauh dia menoleh kebelakang melihat siapa yang berdiri tersenyum melihat penderitaan jiwanya yang tidak hanya meremukkan tulangnya, tetapi sekaligus menghisap seluruh tenaganya, kemauan hidupnya, dan kemampuannya untuk memberikan cinta...
semua hancur tak bersisa. Malaikat sekalipun tak dapat memberikan keajaiban bulu sayapnya yang selalu menenangkan jiwa yang rapuh, tidak untuk dia. terlalu banyak darah yang menetes beriringan dengan air matanya yang sia-sia jatuh ke bumi untuk seorang pendusta...
Lebih baik mati dan tak pernah membuka mata kembali, dari pada menerima kenyataan bahwa hati itu telah hancur dengan kepingan-kepingan darah yang membeku. Ada lagi hati yang datang dengan membawa penawar luka dengan malailat cinta bersayapnya. Mengapa kau harus menerbitkan lagi kecewa yang sudah lama terselubung sengsara???

1 komentar:

re-saintazkiya mengatakan...

Indah nian tulisan adinda. Sampai meluluhkan ego pujangga. Meski kutahu samudera airmata, mengiringi setiap goresan pena. Namun luka tak selamanya membunuh. Kadang luka adalah sukses yang baru tumbuh, meski engkau merasa tak pernah butuh.
Ingatkan hatimu untuk menderita. Karena cinta butuh pengorbanan. Bukan untuk memiliki, tapi untuk menjaganya abadi.

Hehehe, maaf ngelantur. Tadinya mau ikut-ikutan tapi malah ancur.