Aku menunggu sejak saat itu
Ketika kau berikan roti padaku
Kugigit dan isinya merasuk sukmaku, kamu....
Kau bawa hatiku bersamamu
Tetapi angin telah berlalu
Cepat tanpa menghirau takdir yang lalu
Membawa cintaku dan membiarkannya hinggap
Pada tubuh yang selalu disini bersamaku..
Sedangkan kamu?
Dimana???
Selasa, 09 Maret 2010
Kamis, 31 Desember 2009
2009 dalam sejarah
2009 dalam sejarah, Banyak waktu terbuang sia-sia, banyak dosa yang ada dengan sengaja maupun tak sengaja, sadar aku memang manusia biasa. Tuhan, 22 Tahun aku telah melewatinya. Menangis dalam gendongan ibu, merangkak, berjalan, hingga berlari. Begitu seterusnya...
Tapi, apakah Aku telah melakukan sesuatu????
Belum ada satupun yang dapat kulakukan untuk kebahagiaan mereka orang-orang yang terkasih. Ayah, yang telah bersamaMu semoga tetap dalam Ridhomu. Ayah, yang pernah memanggilku Bunda, semoga selalu bahagia dengan Kekasihnya, Slamanya dia segalanya...
Tak ada yang istimewa dariku, tetapi Ibu selalu berkata bukan dengan lisannya "Kau lebih dari segalanya". Dia mengatakannya dengan hati, dan aku dapat membacanya. Maafkan Tuhan, kata-kata itu begitu indah, tetapi Kau lah yang Maha menentukan. Terima kasih Tuhan, ternyata kesempatan itu kau berikan lagi, meskipun aku selalu mengecewakanMu.
Tapi, apakah Aku telah melakukan sesuatu????
Belum ada satupun yang dapat kulakukan untuk kebahagiaan mereka orang-orang yang terkasih. Ayah, yang telah bersamaMu semoga tetap dalam Ridhomu. Ayah, yang pernah memanggilku Bunda, semoga selalu bahagia dengan Kekasihnya, Slamanya dia segalanya...
Tak ada yang istimewa dariku, tetapi Ibu selalu berkata bukan dengan lisannya "Kau lebih dari segalanya". Dia mengatakannya dengan hati, dan aku dapat membacanya. Maafkan Tuhan, kata-kata itu begitu indah, tetapi Kau lah yang Maha menentukan. Terima kasih Tuhan, ternyata kesempatan itu kau berikan lagi, meskipun aku selalu mengecewakanMu.
Minggu, 20 Desember 2009
HATI TAK LAGI BERTUAN
Aku adalah sepenggal kata yang tergores di atas kertas yang berdebu
Aku adalah lukisan yang tertuang dari nurani-nurani yang bisu
Aku adalah lautan hitam tak lagi tertembus biru lazuardinya
Aku adalah mutiara hitam yang berbaur dalam kesunyian palung lautan dalam
Hatiku tak lagi bertuan...
Aku adalah lukisan yang tertuang dari nurani-nurani yang bisu
Aku adalah lautan hitam tak lagi tertembus biru lazuardinya
Aku adalah mutiara hitam yang berbaur dalam kesunyian palung lautan dalam
Hatiku tak lagi bertuan...
Kamis, 19 November 2009
Komposisi sunyi
seperti hujan, basah hati yang muram tak berpeluh cahaya yang diselimuti kedamaian. ada jalan panjang menuju kebahagiaan, seperti apa seharusnya langkah kaki ku tujukan. pernah mata berbicara kepada sang adam, kutikam mata hatiku dalam berharap racun itu pecah mambuyarkan bingkisan2 bingkisan mimpi yang terpendam dalam hati yang mati....
hening, tak ada sepenggal kata yang memekakkan telinga...hati goyah karena sepinya, melangkah kaki itu menuju terang, pecahan demi pecahan amarah murka menjelma menjadi kerikil tajam yang menusuk permukaan kulit yang dibasahi hujan kala mentari enggan menyelimuti dengan terang...
terseret langkah yang basah bersimbah darah dan peluh... berteman langit yang tidak menemukan tempatnya yang biru. laut serta merta menjadi hitam terpantul awan kelam yang enggan memberikan senyuman...
ada jiwa menyala dengan jubah hitamnya yang lusuh termakan waktu yang terbuang sia-sia...
Aku hanya ingin pulang....
hening, tak ada sepenggal kata yang memekakkan telinga...hati goyah karena sepinya, melangkah kaki itu menuju terang, pecahan demi pecahan amarah murka menjelma menjadi kerikil tajam yang menusuk permukaan kulit yang dibasahi hujan kala mentari enggan menyelimuti dengan terang...
terseret langkah yang basah bersimbah darah dan peluh... berteman langit yang tidak menemukan tempatnya yang biru. laut serta merta menjadi hitam terpantul awan kelam yang enggan memberikan senyuman...
ada jiwa menyala dengan jubah hitamnya yang lusuh termakan waktu yang terbuang sia-sia...
Aku hanya ingin pulang....
Selasa, 17 November 2009
Senja itu, langit dihiasi awan keemasan....
memantulkan cahayanya hingga ke ujung hati yang temaram nyaris padam
ada hati yang rindu disana...
benarkah angan dan harapan itu telah mengkristal dan menjelma menjadi abu yang akhirnya terbang tanpa meninggalkan jejak hitamnya?
siapa yang memahami hati yang bertanya, untuk siapa puisiku ini?
memantulkan cahayanya hingga ke ujung hati yang temaram nyaris padam
ada hati yang rindu disana...
benarkah angan dan harapan itu telah mengkristal dan menjelma menjadi abu yang akhirnya terbang tanpa meninggalkan jejak hitamnya?
siapa yang memahami hati yang bertanya, untuk siapa puisiku ini?
Senin, 07 September 2009
Disappoint....
Tak satupun hati yang pernah dengan lembut menggoyahkan jiwanya yang yang bebal atas derita. Hanya sebatas rasa yang berdiam sementara, dan setelah jauh dia menoleh kebelakang melihat siapa yang berdiri tersenyum melihat penderitaan jiwanya yang tidak hanya meremukkan tulangnya, tetapi sekaligus menghisap seluruh tenaganya, kemauan hidupnya, dan kemampuannya untuk memberikan cinta...
semua hancur tak bersisa. Malaikat sekalipun tak dapat memberikan keajaiban bulu sayapnya yang selalu menenangkan jiwa yang rapuh, tidak untuk dia. terlalu banyak darah yang menetes beriringan dengan air matanya yang sia-sia jatuh ke bumi untuk seorang pendusta...
Lebih baik mati dan tak pernah membuka mata kembali, dari pada menerima kenyataan bahwa hati itu telah hancur dengan kepingan-kepingan darah yang membeku. Ada lagi hati yang datang dengan membawa penawar luka dengan malailat cinta bersayapnya. Mengapa kau harus menerbitkan lagi kecewa yang sudah lama terselubung sengsara???
semua hancur tak bersisa. Malaikat sekalipun tak dapat memberikan keajaiban bulu sayapnya yang selalu menenangkan jiwa yang rapuh, tidak untuk dia. terlalu banyak darah yang menetes beriringan dengan air matanya yang sia-sia jatuh ke bumi untuk seorang pendusta...
Lebih baik mati dan tak pernah membuka mata kembali, dari pada menerima kenyataan bahwa hati itu telah hancur dengan kepingan-kepingan darah yang membeku. Ada lagi hati yang datang dengan membawa penawar luka dengan malailat cinta bersayapnya. Mengapa kau harus menerbitkan lagi kecewa yang sudah lama terselubung sengsara???
Kamis, 03 September 2009
Bukan hari ini...

Bukan hari ini, mata kita terbuka dan melihat dunia dengan beragam coraknya. Bukan hari ini tangan-tangan kita pertama kali menggapai untaian-untaian harapan yang mengikat pikiran-pikiran yang haus akan kebahagiaan, tapi harus hari ini kita bercermin dan berpaling kembali melihat dunia, merasakan dan menyelami bahwa sejak saat ini, seharusnya harapan dan impian untuk menggapai kebahagiaan bukan hanya untuk diri yang berhias materi, tetapi untuk mereka yang membutuhkan dan benar-benar hidup dalam sendiri...
Langganan:
Postingan (Atom)
