Kamis, 19 November 2009

Komposisi sunyi

seperti hujan, basah hati yang muram tak berpeluh cahaya yang diselimuti kedamaian. ada jalan panjang menuju kebahagiaan, seperti apa seharusnya langkah kaki ku tujukan. pernah mata berbicara kepada sang adam, kutikam mata hatiku dalam berharap racun itu pecah mambuyarkan bingkisan2 bingkisan mimpi yang terpendam dalam hati yang mati....

hening, tak ada sepenggal kata yang memekakkan telinga...hati goyah karena sepinya, melangkah kaki itu menuju terang, pecahan demi pecahan amarah murka menjelma menjadi kerikil tajam yang menusuk permukaan kulit yang dibasahi hujan kala mentari enggan menyelimuti dengan terang...

terseret langkah yang basah bersimbah darah dan peluh... berteman langit yang tidak menemukan tempatnya yang biru. laut serta merta menjadi hitam terpantul awan kelam yang enggan memberikan senyuman...
ada jiwa menyala dengan jubah hitamnya yang lusuh termakan waktu yang terbuang sia-sia...
Aku hanya ingin pulang....


Selasa, 17 November 2009




Senja itu, langit dihiasi awan keemasan....
memantulkan cahayanya hingga ke ujung hati yang temaram nyaris padam
ada hati yang rindu disana...

benarkah angan dan harapan itu telah mengkristal dan menjelma menjadi abu yang akhirnya terbang tanpa meninggalkan jejak hitamnya?
siapa yang memahami hati yang bertanya, untuk siapa puisiku ini?




Senin, 07 September 2009

Disappoint....

Tak satupun hati yang pernah dengan lembut menggoyahkan jiwanya yang yang bebal atas derita. Hanya sebatas rasa yang berdiam sementara, dan setelah jauh dia menoleh kebelakang melihat siapa yang berdiri tersenyum melihat penderitaan jiwanya yang tidak hanya meremukkan tulangnya, tetapi sekaligus menghisap seluruh tenaganya, kemauan hidupnya, dan kemampuannya untuk memberikan cinta...
semua hancur tak bersisa. Malaikat sekalipun tak dapat memberikan keajaiban bulu sayapnya yang selalu menenangkan jiwa yang rapuh, tidak untuk dia. terlalu banyak darah yang menetes beriringan dengan air matanya yang sia-sia jatuh ke bumi untuk seorang pendusta...
Lebih baik mati dan tak pernah membuka mata kembali, dari pada menerima kenyataan bahwa hati itu telah hancur dengan kepingan-kepingan darah yang membeku. Ada lagi hati yang datang dengan membawa penawar luka dengan malailat cinta bersayapnya. Mengapa kau harus menerbitkan lagi kecewa yang sudah lama terselubung sengsara???

Kamis, 03 September 2009

Bukan hari ini...


Bukan hari ini, mata kita terbuka dan melihat dunia dengan beragam coraknya. Bukan hari ini tangan-tangan kita pertama kali menggapai untaian-untaian harapan yang mengikat pikiran-pikiran yang haus akan kebahagiaan, tapi harus hari ini kita bercermin dan berpaling kembali melihat dunia, merasakan dan menyelami bahwa sejak saat ini, seharusnya harapan dan impian untuk menggapai kebahagiaan bukan hanya untuk diri yang berhias materi, tetapi untuk mereka yang membutuhkan dan benar-benar hidup dalam sendiri...

Jumat, 28 Agustus 2009

Kosong

"Di dalam keramaian aku masih merasa sepiii.....sendiri memikirkan kamu...kau genggam hatiku dan kau tuliskan namamuuu...tulis namamuuuu...." (Mahadewi.red).

liriknya pas bwtQ yg mmank brasa kosong....0 inspirasi, merasa sendiri, tanpa ekspresi...ke mana semangat hari ini? apa mungkin karena cairan di otakku sudah terkontaminasi dengan satu kata, "malas". karena setiap orang bisa jd kehilangan semangatnya kalo bermalas-malasan. Rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh, miskin, etc. Harusnya hari ini bisa menjadi hari yang full spirit.


Selasa, 25 Agustus 2009

Lonely...

Lahir dari kesakitan dan hidup dalam kesakitan, tak ada ujung pangkal smua terasa menusuk menyakitkan. Ada kah akhir dari persakitan yang slalu menggoreskan catatan-catatan suram diatas kertas yang tertoreh noda luka mematikan????
Hanya berteman angan-angan, merangkai seuntai harapan yang berujung penolakan terhadap kenyataan yang menjadikan beringas, liar, dan patah arang karena sebagian elemen hati yang mulai hilang. Adakah seseorang yang masih mengingat namaku? seseorang yang menemukan penyembuh luka yang nyaris membuat....bersambung

Kamis, 20 Agustus 2009

Ayah....


Dalam sunyi...
Kulangkahkan kaki, sambil mengusap peluh yang mengundang lelah...
Di tengah terik, di tanah yang masih terasa basah ini...
Kulihat Ibu tersenyum dihadapanmu Ayah...
Tangannya yang masih halus, membuka helai demi helai barisan doa yang trus dipanjatkannya untukmu...
Kusadari, betapa kehilangannya kami...
Betapa air mata yang terkadang tanpa kami sadari mengalir begitu saja ketika memory itu kembali menghangatkan jiwa kami...

Serasa menemukan setitik air ditengah gurun pasir yang terik...
Kulihat bayangmu, masih seperti Ayahku yang tegar, setegar musfir ditengah terik yang membakar...
Ku ikut tersenyum, dan kembali ku seka air mataku...
Aku bangga menjadi anakmu...